BEKASI -- Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Kak Yassierli mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, memperkuat daya saing melalui konsep “triple readiness” atau tiga kesiapan. Yaitu penguatan technical skills, soft skills , dan market entry readiness (kesiapan memahami dinamika pasar kerja).
Pesan itu disampaikan saat Menaker menutup Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadan 1447 H bagi Praja Muda Karana (Pramuka) Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jawa Barat, Minggu, 8 Maret 2026.
Menaker menekankan, tiga kesiapan tersebut penting karena dunia kerja sedang menghadapi ketidakpastian global, persaingan internasional yang makin ketat, serta disrupsi teknologi yang kian masif.
Dalam situasi seperti ini, anak muda dituntut lebih adaptif agar tidak tertinggal saat memasuki dunia kerja, sekaligus mampu menangkap peluang baru yang muncul.
“Menghadapi tiga tantangan tersebut, tidak cukup hanya dengan technical skills dan soft skills. Anak muda harus memiliki market entry readiness atau kesiapan dalam memahami dinamika pasar kerja global,” ujar Kak Yassierli.
Menaker menyoroti bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia industri. Otomatisasi dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tidak lagi hanya ber peran sebagai alat bantu, tetapi telah mengubah cara industri bekerja dan berkembang.
“Fenomena ini memicu lonjakan kebutuhan akan tenaga kerja berketerampilan tinggi (high-skilled labor) . Perusahaan kini mencari SDM yang tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga mahir merancang, mengelola, dan berkolaborasi dengan sistem AI,” tambahnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, delapan dari 11 keterampilan inti (core skills) yang diprediksi sangat dibutuhkan pada tahun 2030 adalah human skills. Keterampilan ini menekankan kemampuan kognitif, sosial, dan pengelolaan diri yang justru menjadi pembeda manusia di tengah percepatan teknologi.
Delapan keterampilan tersebut meliputi Kepemimpinan dan Pengaruh Sosial (Leadership and Social Influence) , Berpikir Analitis (Analytical Thinking), Berpikir Kreatif (Creative Thinking) , Ketahanan, Fleksibilitas, dan Ketangkasan (Resilience, Flexibility, and Agility).
Kemudian Rasa Ingin Tahu dan Pembelajaran Sepanjang Hayat (Curiosity an d Lifelong Learning) , Motivasi dan Kesadaran Diri (Motivation and Self-Awareness) , Empati dan Mendengarkan Aktif (Empathy and Active Listening) , serta Manajemen Talenta (Talent Management).
Kegiatan Sanlat pada 7 hingga 8 Maret 2026 ini merupakan hasil kolaborasi Kemnaker, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta diikuti 300 peserta.
Selain penguatan nilai dan karakter selama Ramadan, para peserta juga memperoleh pembekalan sesi dimana dikenalkan berbagai bidang pelatihan vokasi mulai dari refrigerasi, las, elektronika, pariwisata, hingga teknologi informasi yang difasilitasi oleh BBPVP Bekasi.
“Saya yakin konten Sanlat ini beda dengan Sanlat yang lain. Ini adalah Sanlat spesial karena adik-adik diarahkan untuk siap menghadapi Triple Readiness ,” kata Kak Yassierli.
Menaker berharap model kolaborasi seperti ini dapat diadaptasi oleh institusi pendidikan lainnya, agar pembinaan generasi muda tidak berhenti pada seremonial, tetapi memberi be kal yang nyata dan relevan untuk masa depan kerja.
“Kita ingin anggota Pramuka dan pemuda Indonesia siap bertarung di pasar kerja masa depan, baik di level nasional maupun internasional,” pungkasnya. **


Post a Comment