Dahulu, Gerakan Pramuka adalah rumah bagi idealisme. Ia adalah tempat di mana janji Tri Satya dan Dasa Darma bukan sekadar hafalan, melainkan napas tindakan. Namun, apa jadinya ketika rumah tersebut mulai terasa sesak oleh ego, intrik politik internal, dan oknum pengurus yang lebih mencintai jabatan ketimbang pembinaan?
Memutuskan untuk undur diri dari jajaran pengurus Kwartir bukanlah keputusan yang mudah. Ada rasa berat meninggalkan struktur yang selama ini kita banggakan. Namun, ada satu kebenaran pahit yang harus kita telan. Kita tidak bisa memperbaiki sistem yang rusak jika sistem tersebut justru menghabiskan seluruh energi kita hanya untuk bertahan hidup dari serangan rekan sejawat.
Berani Keluar adalah Pilihan Logis?
Hal yang paling bisa dilihat adalah Efisiensi Energi Kreatif. Lingkungan yang toxic memaksa kita menghabiskan 80% energi untuk berdiplomasi dengan ego orang lain dan hanya 20% untuk berkarya. Dengan keluar, kita mengembalikan 100% energi tersebut untuk pengabdian yang nyata.
Kemudian kita bisa terus Menjaga Api Idealisme. Berada terlalu lama di lingkungan yang manipulatif berisiko mengubah kita menjadi bagian dari mereka. Pergi adalah cara kita menjaga agar nilai-nilai Pramuka di hati kita tetap murni.
Bagaimana kita bisa memberikan Dampak Tanpa Sekat. Yaitu sebuah pengabdian yang tidak butuh lagi sebuah surat keputusan (SK). Luasnya cakrawala pendidikan kepanduan tidak terbatas pada dinding kantor Kwartir.
Berkarya Tanpa Batas Struktur
Ketika kita melepaskan atribut jabatan, kita sebenarnya sedang meruntuhkan tembok yang membatasi gerak kita. Dampak yang lebih luas justru seringkali tercipta di luar birokrasi yang kaku. Kita bisa kembali ke pangkalan, membina langsung adik-adik di akar rumput, atau menciptakan komunitas lintas organisasi yang lebih dinamis dan solutif.
Pada dasarnya, Pramuka sejati dikenal bukan dari seberapa banyak lencana di sakunya atau seberapa tinggi jabatannya di Kwartir, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia tebarkan bagi masyarakat.
"Kadang, pengabdian terbaik adalah dengan menunjukkan bahwa kita tidak butuh kursi kekuasaan untuk menjadi teladan."
Maka, bagi yang hari ini merasa tercekik dalam lingkaran pengurus yang tidak lagi searah dengan kode kehormatan: Jangan takut untuk melangkah keluar. Dunia butuh karya nyata Anda, bukan sekadar kehadiran Anda di rapat-rapat yang penuh drama.

Post a Comment