Membangun Profesionalisme Stakeholder, Kwartir bukan Tempat Pemakluman

INFOPRAMUKA — Gerakan Pramuka merupkan laboratorium karakter terbesar di Indonesia. Di sinilah nilai Satya dan Darma ditempa. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul, bagaimana mungkin bisa mencetak generasi muda berkarakter jika mesin penggeraknya, yakni Kwartir, masih menoleransi praktik penyimpangan dan ketidakteraturan tanggung jawab?

Sudah saatnya pimpinan Kwartir dan para Andalan berani mengambil sikap tegas. Profesionalisme bukan lawan kata dari pengabdian. Ia adalah bentuk tertinggi dari integritas seorang Pramuka.

Seringkali, asas kekeluargaan di dalam Kwartir disalahartikan sebagai "asalkan sama-sama enak" atau "maklum, ini kan kerja sukarela." Mindset inilah yang perlahan membunuh organisasi.

Ketika staf atau pengurus menyelewengkan tanggung jawab, baik itu secara administratif, kinerja, maupun finansial, mereka sebenarnya sedang merobek nilai kejujuran yang kita ajarkan kepada peserta didik di lapangan.

Pimpinan Kwartir harus melihat bahwa membiarkan penyimpangan berarti melegitimasinya. Kita tidak bisa mengajarkan "Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan" jika di ruang-ruang rapat Kwartir kita masih membiarkan praktik yang jauh dari kata suci.

Setidaknya ada tiga langkah strategis yang bisa kita lakukan untuk mengubah budaya "pemakluman" menjadi profesionalisme,

  1. Pengabdian sukarela tidak boleh menjadi alasan untuk bekerja amatir. Setiap program harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas (KPI). Jika tanggung jawab tidak tuntas, evaluasi harus dilakukan secara objektif, bukan berdasarkan perasaan.
  2. Pimpinan Kwartir harus berani memberikan punishment yang mendidik. Reshuffle atau pergantian pengurus yang tidak produktif atau menyimpang bukanlah tindakan kejam, melainkan langkah penyelamatan organisasi.
  3. Penyelewengan hanya mati dalam cahaya. Dengan membuka ruang transparansi di setiap lini kegiatan, kita sedang membangun sistem imun yang kuat bagi organisasi.

Kelembagaan Kwartir yang sehat dan profesional secara otomatis akan memberikan dampak optimal bagi Gugus Depan. Ketika Kwartir dikelola dengan manajemen yang bersih, program-program pembinaan karakter akan lebih tajam, distribusi sumber daya lebih merata, dan yang terpenting, Kwartir menjadi Role Model nyata bagi adik-adik kita.

Kita ingin anggota muda melihat pimpinan mereka sebagai sosok yang tidak hanya pandai berpidato tentang Dasadarma, tapi juga nyata mempraktikkannya dalam tata kelola organisasi yang akuntabel.

Profesionalisme di tubuh Kwartir adalah harga mati jika kita ingin Gerakan Pramuka tetap relevan dan dicintai masyarakat. Kwartir sebagai pusat keunggulan (center of excellence) perlu dikembalikan dan dijaga.

Integritas harus dijunjung tinggi dan setiap penyimpangan adalah hal yang tidak memiliki tempat untuk tumbuh. Sebab, karakter tidak hanya diajarkan lewat buku saku, tapi melalui teladan dari mereka yang memegang amanah di tingkat puncak.

Pemerhati Kwartir

Kirim Komentar

Previous Post Next Post