Gerakan Pramuka, merupakan sedikit contoh organisasi yang berhasil bertahan dari era perjuangan, era revolusi kemerdekaan hingga era reformasi.
Namun dalam perkembangannya baik dalam peran-peran kebangsaan, pendidikan, maupun sosial kemasyarakatan Gerakan Pramuka seperti tertinggal jauh dari NU dan Muhammadiyah.
Tentu perbandingannya tidak sesederhana ini, namun sebagai perbandingan reflektif, penting juga untuk direnungkan oleh segenap keluarga besar Gerakan Pramuka.
Satu hal penting, Muhammadiyah dan NU berhasil mempertahaknan diri sebagai organisasi kader. Tidak ada orang luar yang nggak ngerti Muhammadiyah dan nggak ngerti NU ujug-ujug bisa menjadi pengurus bahkan menjadi orang paling penting dalam organisasi.
Gerakan Pramuka sebaliknya, cenderung makin lemah posisinya sebagai organisasi kader. Siapa saja bisa dan merasa gampang saja memimpin Gerakan Pramuka.
Padahal faktanya memimpin Gerakan Pramuka tidaklah mudah karena harus mampu bertindak sebagai pendidik, organisator, inovator, kolaborator, dinamisator dan yang terpenting bisa menjadi tokoh "panutan" baik dalam pikiran, ucapan maupun tindakannya.
Sistim rekrutmen terbuka kepemimpinan Gerakan Pramuka ada plus minusnya atau memiliki dua mata pedang.
Mata Pedang Pertama
Gerakan Pramuka menemukan orang yang tepat, meskipun bukan kader. Sang pemimpin barangkali tidak paham substansi secara mendalam, namun sikap kerelawanannya, ketulusan pengabdiannya, kesadaran bahwa dirinya menjadi sumber keteladanan, menjadikannya mampu menggerakkan seluruh potensi Gerakan Pramuka untuk maju, bergotong royong, bersatu, saling mengisi didalam memajukan organisasi.
Sang Pemimpin mampu mengembangkan budaya kolektf kolegial, kekeluargaan dan gotong royong. Problem2 berat Gerakan Pramuka mampu diatasi bersama, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Sang Pemimpin juga menyadari bahwa rekam jejak dan ketokohannya diperlukan untuk mengkolaborasikan dan mengkonsolidasikan seluruh potensi Gerakan Pramuka. Ia hadir sebagai tokoh pengayom, pemersatu dan inspirator gerakan, serta menyadari besarnya tanggungjawab mengemban amanat Gerakan Pramuka.
Pada mata pedang pertama, Gerakan Pramuka berhasil memperoleh pemimpin gunuine yang dalam filosofi jawa disebut “yen wani ojo wedi-wedi – yen wedi ojo wani-wani” (Kalau berani jangan takut-takut; kalau takut jangan berani-berani).
Mata Pedang Kedua
Gerakan Pramuka berpotensi salah memilih tokoh atau pemimpin, karena ulah para kadernya sendiri yang menjual murah organisasi kesana kemari. Demi kepentingan diri dan kelompoknya.
Budaya pilihan langsung “one man one vote” dan adanya kader-kader pragmatis transaksional (pemburu kekuasaan), yang berlomba-lomba menjadi tim sukses dengan mengusung prominent figure tertentu, berpotensi salah memilih pemimpin. Boro-boro mendapatkan pemimpin, malah terjebak mendapatkan penguasa yang otoritarian - megalomania.
Manis didepan, pahit belakangan. Sebagian tim sukses lepas tangan, yang penting sudah mendapatkan kekuasaan dan fasilitas. Sebagian lagi "ditendang" keluar gelandang. Khas dinamika kekuasaan otoritarian megalomania.
Kekuasaan model ini akan terus berupaya memusatkan kewenangan disatu tangan. Unsur-unsur pengawas dan penjaga kehormatan organisasi dirangkap dalam satu genggaman, andalan ditunjuk tidak untuk difungsikan tetapi sekedar pajangan.
Kontrol kwartir dibawahnya dimatikan dan disandera dengan instrumen administratif, pihak yang tidak sepaham “dipecat” dengan sewenang-wenang dan dipermalukan tanpa menghindahkan filosofi organisasi yang basisnya “ngewongke wong: (memanusia manusia dan kemanusiaan).
Yang lebih “mengerikan” ditangan para otoritarian megalomania kekuasaan digunakan bukan untuk memajukan organisasi tetapi untuk terus mengkonsolidasi suara bagi kepentingangan melanggengkan kekuasaan. Membagi-bagi kekuasaan berdasarkan balas jasa politik dan perkoncoan sembari mengubur “merit system”.
Tolok ukur kemajuan dan keberhasilan program ditentukan sendiri, diklaim sendiri, diumumkan dan dibangga-banggakan sendiri.
Pada mata pedang kedua, berpotensi “menghunus” jantung gerakan, menemui ajalnya. Minimal mengalami kerusakan kultural yang akut, sehingga “tampak gagah dari luar tetapi organ dalamnya keropos."
Upacara dan event2nya meriah, tetapi instrumen-instrumen kependidikannya tak tersentuh kemajuan, budaya organisasinya melemah sebagai sumber keteladanan serta melemahnya kontribusi pada pemecahan masalah -masalah kebangsaan.
Gerakan Kultural oleh Para Ideolog
Ngawekani (untuk jaga-jaga) dan juga untuk menjaga marwah Gerakan Pramuka dalam jangka panjang, lagi-lagi perlu belajar dari Muhammdiyah dan NU.
Bukan semata-mata untuk mengubah organisasi kader dari “terbuka” menjadi “tertutup” tetapi pentingnya Gerakan Pramuka ditopang oleh gerakan kultural yang diinisaisi oleh para Ideolog secara individual.
Dalam kultur organisasi NU dan Muhammadiyah banyak tokoh, baik Kyai maupun Intelektual yang tidak menjabat apapun dalam struktur tetapi memiliki pengaruh besar dan menjadi panutan umat karena keistiqomahannya menjaga marwah, filosofi dan nilai2 organisasi. Jajaran Strukturalpun menghormati dan menerima masukan dan kritiknya dengan penuh takzim, bukan memusuhinya.
Gerakan kultural ideologis bukanlah gerakan oposisi, karena bersifat ketokohon individu, bukan mengejar jabatan. Gerakan yang semata-mata menjaga marwah dan nilai-nilai kepramukaan agar tetap tumbuh di atas relnya.
Para ideolog juga tidak butuh jabatan, concern-nya bagaimana niai-nilai dan filosofi organisasi tetap tumbuh dan berkembang di akar rumput tanpa terkoptasi kepentingan apapun.
Secara sederhana, ideolog Gerakan Pramua, adalah mereka yang tidak sekadar hafal Tri Satya dan Dasa Darma di luar kepala, melainkan telah menghidupi dan "menumbuhkan" nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya.
Ideolog Gerakan Pramuka adalah para penjaga api substansi pendidikan kepramukan. Mereka paham betul falsafah di balik setiap simpul, makna di balik setiap kiasan dasar, dan tujuan mulia dari pembentukan karakter generasi muda.
Bagi seorang ideolog, Pramuka bukan komoditas politik, bukan panggung pencitraan, dan bukan pula tempat mencari keuntungan materi atau status sosial, bukan pula sekedar mengisi waktu pensiun untuk menghindari post power syndrome.
Gerakan Pramuka memiliki amat sangat banyak ideolog baik bertaraf nasional, lokal bahkan internasional. Ada yang purna Andalan, purna Pelatih, purna Ketua Kwartir, purna Dewan Kerja, purna Pembina, dan sebagainya. Mereka memilih purna tidak sekedar pertimbangan usia namun merupakan pilihan.
Sudah semestinya para ideolog ini terus menebar kebaikan dan terus bekerja menjaga nilai-nilai, baik dengan membentuk lembaga riset dab kajian, mendirikan yayasan, menerbitan buku, menulis di media digital, menjadi bapak asuh gudep maupun pangkalan saka.
Berkawan karib dengan para pembina dan pamong saka, menyelenggarakan fundrising untuk gudep dan kwarran, menyelenggarakan workshop dan pelatihan, mengembangkan filantropi, dan berbagai agenda fundamental lainnya. Uluran tangan para ideolog merupakan oase bagi para musafir dipadang pasir gersang nan luas dan terik.
Menjadi Pramuka Saklawase, Menjadi Pengurus Sakcukupe
Kalimat sub judul ini saya modifikasi dari nasehat Kyai Sepuh NU, ketika menasehati warga nahdliyin, “Jadilah NU selamanya namun jadilah pengurus NU secukupnya saja”.
Nasehat ini pas untuk para keluarga besar Gerakan Pramuka, “Jadilah Pramuka selamnya, namun jadilah pengurus kwartir secukupnya saja”.
Nasehat ini juga bagus untuk mengetuk nurani para Pramuka yang senang menumpuk dan rangkap jabatan di berbagai tingkatan (cabang, daerah dan nasional), bahkan ada yang hampir sepanjang hayatnya menjadi pengurus kwartir. Opo yo nggak bosen. Opo yo tidak ada orang lain. Apa ya tidak pernah ngitung (menghitung) seberapa manfaat dan penting kontribusinya sehingga kekuasaan di kwartir harus dipertahankan mati-matian sampai begitu tega mengubah AD-ART demi kepentingan kekuasaan. Apa yang dicari? Toh kekuasaan tidak otomatis membawa kemuliaan diri.
Pada akhirnya kerja-kerja kultural ideologis perlu terus dikembangkan oleh keluarga besar Gerakan Pramuka, sebagai komplementer kerja-kerja struktural.
Bahkan tidak hanya itu, kerja-kerja kultural ideologis dapat menjadi “baffer zone” jika suatu ketika kerja-kerja struktural terkoptasi oleh para penguasa otoritarian – megalomania.
Dengan ditopang para ideolog, Gerakan Pramuka akan terhindar dari kebangkrutan karena memiliki instrumen Jihadis Organisasi. Jihad yang diinisiasi para Ideolog yang Tangguh.
oleh Anis Ilahi, Purna DKD Yogyakarta

Post a Comment